Blog

Antara Aku, ZMOT, Micro-moments, dan AISAS

Pinkan Fadhilah

Intern - Digital Strategist at Communicaption
Psychology Student, Padjajaran University

Latest posts by Pinkan Fadhilah (see all)

Saat ini, internet telah menjadi bagian dari hidup manusia. Siapa yang tidak menggunakan internet setiap harinya? Apa pun bisa dilakukan dengan internet, mulai dari mencari informasi, membeli barang, refreshing, hingga mencari jodoh. Kebayang nggak sih rasanya kalo paket internet habis dan nggak ada Wi-Fi?

Source: me.me

 

Nah, salah satu aktivitas yang sekarang banyak dilakukan lewat internet adalah belanja online. Kegiatan yang satu ini bahkan udah jadi rutinitas bulanan atau pun mingguan dan bukain paket dari kurir pengiriman udah jadi hobi saat ini, at least for me.

“Bubble wrap-nya buat aku ya!” kata temen tiap ada yang lagi buka paket. “Jangan, buat aku aja kan kamu juga punya!” kata temen yang satunya. Kemudian, selalu pada akhirnya, mereka berantem cakar-cakaran cuma demi mainin bubble wrap. Ada nggak sih yang ngalamin hal ini juga? Pasti kalian juga suka kan mainin bubble wrap? Kalo nggak sih, you can’t sit with us.

Aku dan ZMOT

Belanja online itu selain gampang, banyak sekali produk yang ditawarkanya. Semua produk bisa didapatkan dengan berbelanja online, mulai dari baju, makeup, tiket pesawat dan hotel, mobil, hingga rumah.

Saat ini, banyak banget pilihan tempat untuk berbelanja online yang pastinya bikin bingung sendiri mau beli di mana! Nah, decision-making secara online yang dilakukan oleh pembeli ini dapat disebut juga dengan Zero Moment of Truth (ZMOT).

ZMOT merupakan sebuah momen dalam pembelian yang di dalamnya konsumen menyelidiki produk yang diinginkan untuk kemudian membelinya. Sebelumnya, para penjual lebih mengenal istilah FMOT (first moment of truth), yaitu momen ketika pembeli pertama kali bertemu dengan barang tersebut; dan juga SMOT (second moment of truth), yaitu momen ketika produk telah dibawa pulang dan dikonsumsi oleh pembeli.

Pada saat ini, ZMOT dikenal sebagai momen yang di dalamnya pembeli mencari review terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membeli produk. Pembeli biasanya mencari informasi-informasi mengenai produk yang diinginkan atau pun membandingkannya dengan produk-produk lainnya. Tidak jarang pula terdapat orang yang memberikan rekomendasi secara online; kayak waktu aku abis ngeliat barang di drugstore, tapi masa nggak cek review dulu sebelum beli? Langsung deh ambil handphone, buka Youtube, dan cari review produk-produk tersebut dari para beauty vlogger, misalnya Tasya Farasya. Selain bisa dapet review yang jujur, biasanya juga ada konten ‘battle’, yaitu konten yang isinya bandingin beberapa produk dengan fungsi yang sama. Jadi, nggak bingung lagi deh mau beli yang mana!

Aku dan Micro-moments

Selain ZMOT, ada juga istilah yang disebut dengan micro-moment. Micro-moment ini terjadi saat seseorang secara reflektif beralih ke perangkatnya, salah satunya smartphone, untuk bertindak atas kebutuhannya dalam mengerjakan, mencari, mempelajari, atau membeli sesuatu. Hal ini dapat terjadi saat kita sedang menunggu, mengerjakan sesuatu, atau kapan pun.

Kayak waktu itu, aku lagi nungguin temen yang janjian ketemu di sebuah kafe jam tujuh malem, tapi dia nggak dateng-dateng. Daripada duduk diem awkward diliatin orang-orang, ya mending main HP aja. “Iya, aku paling males kalo baru masuk udah langsung ditanya-tanyain mau pesen apa padahal temen-temen aku belum pada dateng. Ya udah, aku pura-pura nelfon aja biar nggak diajak ngomong. Padahal, nggak ada yang aku telfon,” kata salah satu temen waktu aku ceritain tentang hal ini.

Ngaku deh pasti pernah kan nggak ada yang chat, tapi bolak-balik nge-scroll HP cuma biar dikira sibuk? Nah, pas lagi nge-scroll Facebook, Instagram, atau apa pun, nggak jarang juga tiba-tiba muncul iklan entah dari mana. Nih contohnya, lagi asyik nontonin stories temen-temen, tiba tiba muncul:

Dalam hal ini, brand diminta untuk menyadari bahwa pembeli dihadapkan pada banyak sekali konten, iklan, dan hal lain yang membuat mereka dapat menganggap sebuah brand sebagai sesuatu yang menganggu kenyamanan ketika bermain social media dan langsung melewatinya begitu saja. Oleh karena itu, penting sekali untuk mendapatkan atensi dari pembeli pada sepersekian detik pertama agar pembeli memilih untuk bertahan dan memberikan perhatian lebih terhadap iklan tersebut.

Selain itu, micro-moment juga merupakan momen ketika hal-hal kecil yang terjadi pada seseorang menjadi sebuah peluang bagi brand atau semacamnya untuk berinteraksi dan memengaruhi konsumen karena pada momen ini, bisa jadi seseorang melakukan pencarian di internet mengenai apa pun sehingga penting bagi brand untuk selalu sedia dan memaksimalkan kesempatan ini.

Aku dan AISAS

Selanjutnya, terdapat istilah AISAS model, yaitu model yang dirancang untuk melakukan pendekatan kepada target audiens secara efektif dengan melihat perubahan perilakunya. AISAS sendiri merupakan singkatan dari attention, interest, search, action, dan share.

Awalnya, seseorang menerima stimulus untuk memperhatikan produk, layanan, maupun iklan (attention). Hal tersebut menimbulkan ketertarikan (interest) sehingga muncul keinginan untuk mengumpulkan informasi (search) tentang barang tersebut. Setelah itu, barulah konsumen membuat penilaian secara menyeluruh berdasarkan informasi yang dikumpulkan dan kemudian membuat sebuah keputusan untuk melakukan pembelian (action). Setelah pembelian, konsumen menjadi penyampai informasi dengan berbicara pada orang lain atau mengirim komentar dan tayangan di Internet (sharing).

Source: Dentsu

 

Istilah-istilah di atas perlu diketahui dan dikuasai oleh para pemilik bisnis, profesional, atau pun individu yang berkecimpung di bidang pemasaran digital. Dengan meningkatnya pemasaran digital, maka brand, startup, NGO, sampai institusi pemerintah pun mau tidak mau harus menggunakan pendekatan ZMOT, Micro-moments, dan AISAS untuk mengomunikasikan dan mengampanyekan produk, jasa, isu, atau program-program mereka kepada pengguna internet Indonesia yang jumlahnya sudah hampir mencapai 60% dari total jumlah penduduk Indonesia. Jika tidak mengikuti perkembangan yang ada, terutama dalam hal pemasaran digital, maka lama-kelamaan sebuah brand bisa saja tertinggal dibandingkan dengan brand lain yang terus berkembang.

“Right now, people all over the world are trying to make the most of every moment, are you there?” – Google.

 

Sumber:
Thinkwithgoogle.com: ZMOT, micro-moments, and marketing funnel
Inc.com
Binus.ac.id: ZMOT & AISAS Model
Studylibid