Author Archives:

Zukhrufah D.A

Melampaui Batas-batas Perjalanan

Melampaui Batas-batas Perjalanan

Pada 13-15 Juli 2017, saya mewakili Communicaption ikut serta dalam Ekspedisi Pantau Gambut yang dilaksanakan bersama beberapa NGO untuk secara aktif melihat perkembangan restorasi lahan gambut yang dilaksanakan pemerintah di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Dalam perjalanan sejauh lebih dari 1.000 km ini, saya tidak hanya menemukan batas-batas wilayah yang sebelumnya tidak saya lampaui. Perbedaan kebudayaan juga menjadi manifestasi kebesaran semesta yang patut untuk dipelajari.

Sesampainya di Palangka Raya, saya dan Tim Pantau Gambut bergegas menuju Desa Mantangai Hulu, Kapuas, Kalimantan Tengah. Selama 6 jam perjalanan, kami hanya melihat hamparan kebun kelapa sawit, bentangan Sungai Kapuas, dan tentu saja jalan raya yang dibangun di atas lahan gambut dengan tekstur bergelombang yang sangat terasa saat kami jejaki.

Begitu menginjakkan kaki di Desa Mantangai Hulu, panorama masyarakat setempat langsung mengalihkan pandangan kami. Rumah-rumah panggung sederhana berjejer rapi di atas sungai, anak-anak bermain lincah sambil sesekali minta kami memotret mereka ketika sebuah kamera bertengger di tangan kami. Senyum penduduk desa menjadi obat mujarab yang mampu menghilangkan rasa lelah setelah berjalan melampaui batas wilayah kota.

Batas Kenyang

Tempat pertama yang kami sambangi di Desa Mantangai adalah kediaman Bapak Noerhadi Karben, yaitu pendiri Serikat Tani Manggatang Tarung. Sambutan dari pribumi tampak begitu luar biasa karena setiap orang mendapatkan jamuan berupa penganan hasil tani yang diolah secara sederhana sebanyak sepiring. Setiap piring berisi 4 pisang goreng, sejumput selada singkong, beberapa butir “telor cicak” yang terbuat dari singkong, dan sepotong kue gethuk. Menurut masyarakat setempat, jamuan itu harus dihabiskan agar pribumi merasa senang dan dihargai. Alhasil, mau tidak mau, kami harus memenuhi perut kami dengan penganan-penganan tersebut meski sudah terlampau kenyang.

Photo Credit: Leni Novitasari

Beberapa jam setelah beristirahat di kediaman Pak Noerhadi, kami pun bergegas menuju area pertanian milik masyarakat Desa Mantangai Hulu. Namun, sebelum berangkat, kami diperintahkan untuk menggigit masing-masing kelingking kami agar terbebas dari bahaya akibat tidak memakan jamuan utama yang sudah dipersiapkan oleh tuan rumah. Bisa dibayangkan, betapa kenyangnya perut kami jika harus menyantap hidangan utama setelah mengonsumsi makanan serba karbohidrat yang sebelumnya disuguhkan sebagai makanan pembuka!

Pada tahap inilah saya menyadari bahwa melampaui batas kenyang merupakan salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk menghargai apa yang sudah tuan rumah persiapkan bagi tamunya.

Batas Gender

Melanjutkan perjalanan, kami semua bersiap menuju area pertanian seluas 120 hektar milik para petani Desa Mantangai. Menurut Pak Basri, ketua Serikat Manggatang Tarung, setiap kepala keluarga memiliki lahan sebanyak 1 hektar untuk diolah. Untuk sampai ke area pertanian tersebut, kami harus menaiki kelotok selama kurang lebih setengah jam.

Bukan hanya Pak Basri dan Pak Noerhadi yang mengantar kami ke lahan pertanian itu. Beberapa isteri dan anak gadis para petani Desa Mantangai pun dengan senang hati mengantar kami ke lahan milik mereka. Seorang gadis bernama Yunita, keponakan Pak Basri, kebagian satu kelotok dengan saya sehingga kami bisa bertukar cerita selama perjalanan menuju lahan pertanian.

“Kak, kok pakai pelampung?” tiba-tiba Yunita bertanya sambil tersenyum pada saya.

Saya yang tidak terlalu mahir berenang menjawab sekenanya, “Takut tenggelam, nanti dimakan buaya.”

Seketika, obrolan kami pun menjadi semakin berwarna. Dari mulai kenapa orang kota selalu pakai pelampung tiap kali datang ke sini, bagaimana perempuan-perempuan di Desa Mantangai menjalani hari-hari mereka di lahan gambut, sampai pada cerita bahwa setiap hari Sabtu dan Minggu, kaum perempuan di Desa Mantangai sama-sama pergi ke kebun untuk menggarap lahan yang ditinggalkan kaum lelaki. Pada dua hari tersebut, para lelaki pergi ke luar desa untuk menjual hasil tani atau sekadar mencari uang dengan cara lain jika sedang gagal panen. Lantas, kaum perempuan inilah yang menggantikan para lelaki untuk tetap menjaga keberlangsungan olah lahan mereka.

Saat asyik bercerita, pembicaraan terhenti karena kami harus segera turun dari kelotok. Saat melihat area pertanian yang sangat luas ini, saya benar-benar meyakini bahwa inilah kekayaan Indonesia yang hingga kini membuat negara asing tidak berhenti menjajah kita dengan berbagai cara. Sayangnya, mungkin kita belum tahu cara yang tepat untuk menjaga harta bernilai ini.

Ah, lanjut cerita saja!

Setelah kami turun dari kelotok, kami pun segera menuju bangsal tempat para petani beristirahat saat mengolah lahan. Di bangsal ini, kami mulai bercerita kembali satu sama lain. Para lelaki yang sedang beristirahat bercerita antusias tentang solidaritas kaum perempuan yang tidak punya rasa lelah karena setelah mengurus rumah tangga di hari Senin sampai Jumat, mereka masih rela mengorbankan tenaga untuk menggantikan kaum lelaki dalam bertani di hari Sabtu dan Minggu.

“Di sini, yang paling kuat itu perempuan. Mereka bisa mengurus rumah sekaligus bertani. Kami, laki-laki hanya bisa mencari uang saja untuk makan. Bahkan untuk mengurus lahan yang kena konflik dengan perusahaan saja, ibu-ibu yang turun tangan. Ya perusahaan sawit pun takut sama ibu-ibu.” Begitu kisah Pak Basri tentang kekuatan perempuan di Desa Mantangai Hulu sambil sedikit tertawa saat memeragakan “radikalisme” kelompok perempuan yang enggan tanah adatnya diubah jadi tanah perusahaan.

Lagi-lagi, lewat cerita lokal di Mantangai Hulu ini saya mendapatkan pengalaman melampaui batas gender yang sangat sederhana, namun besar kontribusinya.

Batas Kepercayaan

Hari pertama di Desa Mantangai Hulu berjalan begitu menyenangkan karena selain bisa melihat bagaimana para petani lokal berusaha untuk mengolah lahan gambut tanpa membakar, kami juga bisa mengenal budaya dan kepercayaan masyarakat setempat lewat cerita-cerita mereka dan pengalaman langsung saat harus mandi di sebuah gubuk apung di bantaran sungai.

Keesokan harinya, saya dan tim Pantau Gambut bersiap-siap untuk pergi menuju Taman Nasional Sebangau. Sebelum pergi, kami berpamitan terlebih dahulu pada masyarakat setempat. Namun saat hendak berpamitan dengan Pak Noerhadi dan Pak Basri, keduanya sedang mengurusi seorang warga yang sedang mengalami keguguran. Pak Noerhadi dan Pak Basri sama-sama tetua di desa tersebut sehingga mereka “bertanggung jawab” terhadap segala sesuatu yang terjadi pada warga setempat.

Satu hal yang juga sangat menarik di sini adalah rumah ibadah yang berdampingan satu sama lain. Di sini, terdapat 3 kepercayaan yang dianut oleh warganya dan masing-masing rumah ibadah berada di wilayah yang sama. Saat memasuki batas Desa Mantangai Hulu, kita akan melihat sebuah gereja yang berdiri di samping masjid dan rumah ibadah para penghayat kepercayaan, yakni Kaharingan. Seluruh masyarakat bisa dengan nyaman memeluk agama dan kepercayaan mereka.

Lagi, lagi, dan lagi saya telah mendapatkan pengalaman langsung melampaui batas kepercayaan yang beberapa waktu ke belakang sangat langka ditemukan di kota. Ya, bukan masyarakat desa yang terlalu sulit untuk melampaui batas wilayah kota, melainkan masyarakat kota yang sangat sulit melampaui batas-batas kepercayaan sehingga melihat segala sesuatu secara eksklusif.

Batas Pengetahuan

Sesampainya di Taman Nasional Sebangau, kami langsung disambut oleh penjaga Desa Bangkirai untuk kemudian melanjutkan perjalanan berkeliling Taman Nasional dengan menggunakan kelotok. Dalam perjalanan, kami bertukar cerita dengan pengemudi kelotok yang mayoritas bekerja sebagai petani lahan gambut. Menurut mereka, hal yang harusnya dilakukan oleh pemerintah dan lembaga non-pemerintahan untuk menjaga lahan gambut di wilayah ini bukan hanya memanjakan penduduk lokal dengan setumpuk dana, melainkan pemahaman yang mudah dicerna oleh masyarakat lokal.

“Dulu, kami tidak mau menebang pohon sembarangan karena takut leluhur kami. Sekarang, banyak dari kami yang menebang pohon karena melihat orang kota tidak dapat tulah setelah melakukannya,” begitu keluh salah seorang petani Sebangau pada kami.

Lebih lanjut lagi, seorang petani Sebangau bernama Suheriansah menambahkan bahwa masyarakat tidak akan melakukan perusakan lahan jika pemerintah mau sama-sama mengolah lahan dan melibatkan penduduk lokal dalam setiap upaya pelestarian hutan dan lahan.

Bagi saya, pembicaraan ini bukan sekadar mendengar keluh kesah masyarakat lokal soal pembangunan dan pelestarian hutan, melainkan sebuah cara untuk kita bisa sama-sama melampaui batas pengetahuan. Karena sejatinya, setiap orang memiliki pengetahuan tertentu yang tidak dipahami oleh orang lainnya. Masyarakat kota mungkin memiliki cerita dan berita terkait berbagai ilmu dan inovasi yang modern, tapi masyarakat desa juga punya segudang pengetahuan yang mereka kemas dalam kearifan lokal.

Demi kemajuan masyarakat Indonesia yang lebih humanis dan inklusif, siapkah kita sama-sama melampaui batas-batas ini?