Category Archives:

Insight

Barista Inklusif; Mencecap Kopi Sampai ke Rasa yang Paling Dasar

Menikmati kopi saja ternyata belum cukup untuk memuaskan dahaga para pecinta kopi. Banyak orang mulai menekuni dunia barista supaya menikmati kopi tidak hanya sebatas menyesap, tapi juga mencecap hingga ke rasa yang paling dasar. Kamu yang sangat mencintai kopi pasti tahu kan bagaimana rasanya mencecap?

Pada 29 Juli 2018, empat personil Commcap hadir di acara Kopi Brewbagi Barista Inklusif yang digagas oleh Program Peduli bersama Pusat Rehabilitasi Yakkum dan Cupable Coffee. Berbeda dengan pelatihan barista pada umumnya, Barista Inklusif digelar bagi para penyandang disabilitas, penyintas kekerasan masa lalu, dan penghayat kepercayaan yang sering kali mendapat stigma hanya karena mereka berbeda dengan kebanyakan orang.

Di lapangan parkir Pusat Rehabilitasi Yakkum, Yogyakarta, berkumpul seluruh para pecinta kopi, blogger, dan beberapa orang yang terlibat secara personal dengan kopi. Sebut saja Frischa Aswarini, seorang penyair yang pernah terlibat dalam pembuatan skenario film Filosofi Kopi 2 yang juga memiliki saudara kandung dengan disabilitas, dan Bernard Batubara yang merupakan seorang penulis sekaligus penyeduh kopi rumahan.

Lalu, apa saja yang kami temukan di acara ini?

Ilmu dan Pengalaman yang Layak Dibagikan

Sebelumnya, delapan peserta yang berasal dari berbagai macam latar belakang telah mengikuti pelatihan Barista Inklusif. Delapan peserta tersebut terdiri atas enam orang disabilitas, satu orang penghayat, dan satu orang penyintas kekerasan masa lalu. Selama sebulan, mereka dilatih untuk mengenal seluk-beluk kopi, mulai dari penanaman bibit, panen, pengolahan, hingga penyajian kopi.

“Dulu, saya bekerja sebagai resepsionis di Yakkum, Mbak. Saya suka ngopi dan pas lagi ngobrol dengan Pak Banu (pemilik Cupable Coffee), beliau tanya, kalau saya suka kopi kenapa tidak belajar bikin kopi sendiri? Dari situlah saya mulai tertarik dan akhirnya ikut program Barista Inklusif ini,” cerita salah seorang disabilitas amputasi tangan yang bernama Eko Sugeng.

Laki-laki berusia 33 tahun tersebut merupakan salah satu peserta Barista Inklusif yang populer karena selain kemahirannya dalam membuat kopi manual brew, ia juga merupakan sosok yang sangat ramah dan humoris. Ia tidak pernah melewatkan senyum, salam, dan sapa kepada setiap orang  yang menghampirinya. Pandai bersosialisasi dan berinteraksi, itulah salah satu bagian penting yang wajib dimiliki oleh seorang barista. Karena untuk memberikan rasa terbaik, seorang barista juga harus dapat memahami suasana hati pelanggannya dengan baik.

Pengalaman dalam memahami situasi hati pelanggan inilah yang sempat dibagikannya saat kegiatan barista battle dilakukan di akhir acara. Di antara para barista andal, pemula, dan peserta battle yang dicap capable, justru lelaki inilah yang berhasil keluar sebagai pemenang. Ia berhasil membuktikan bahwa kesempurnaan bukanlah faktor utama yang menentukan lahirnya rasa kopi yang bisa dicecap hingga ke dasarnya. Dengan kondisi disabilitas yang dimilikinyalah justru keluar ilmu dan pengalaman lain yang secara tidak langsung dibagikan kepada seluruh pecinta kopi: soal bagaimana mengolah rasa.

Semangat untuk Memberikan yang Terbaik

Sama seperti Eko, peserta Barista Inklusif lainnya juga memberikan pelajaran berharga bagi banyak orang. Adi, Uswinda, Yuli, Jeafri, dan Salman yang juga disabilitas sama-sama membagikan ilmu dan pengalaman yang mereka miliki kepada seluruh tamu yang hadir dalam acara ini. Tidak sedikit dari kami yang tercengang melihat bagaimana ketidaksempurnaan justru menghadirkan rasa nikmat kopi yang sempurna.

Misalnya saja, Jeafri yang dengan keterbatasannya, justru mampu mengajari orang-orang yang hadir untuk bisa bersama-sama mempelajari bagaimana cara membuat kopi yang baik. Dengan sabar, ia mengajari salah satu personil Commcap yang juga tertarik dengan pembuatan kopi manual brew untuk dapat menghasilkan rasa kopi terbaik. Begitu juga dengan Adi, lelaki asal Brebes yang mengalami amputasi kaki, dapat memperlihatkan semangatnya untuk tetap berjuang mengolah kopi di meja yang sama dengan meja para barista lainnya.

Sementara itu, Salman yang sebelumnya didiagnosis memiliki kelemahan psikologis juga bercerita tentang pengalaman panjangnya dalam berjuang untuk dapat diterima di masyarakat hingga akhirnya ia diterima sebagai barista di salah satu coffee shop yang ada di Yogyakarta.

Kopi dan Inklusi

Kegiatan terakhir yang dilakukan dalam acara ini adalah barista battle. Dalam kegiatan ini, seluruh peserta battle berkompetisi untuk menghasilkan kopi yang rasanya paling nyaman di lidah para juri. Bukan tidak enak, ya, karena pada dasarnya semua kopi dihasilkan dengan rasa yang sama: pahit. Namun, tiap orang mengolahnya dengan cara dan keyakinan yang berbeda sehingga cita rasa yang dihasilkannya pun berbeda. Cita rasa inilah yang mungkin bisa kita namakan rasa paling dasar dari kopi. Ada yang rasanya seperti tanah, jeruk, cokelat, dan banyak lagi.

Kebiasaan ngopi sepertinya memang sudah menjadi kebudayaan lokal yang mengakar di dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Di mana ada kopi, di situ ada perbincangan. Perbincangan yang mungkin sarat akan makna, tapi bisa juga cuma sarat akan tawa. Ada yang berbicara soal politik, kemudian lari ke urusan rumah tangga, atau bahkan ada yang cuma membahas remeh-temeh yang bisa bikin kita tertawa sampai menangis.

Bersama Barista Inklusif, Rohmat Yani sebagai korban kekerasan masa lalu dan Tri Indah sebagai peghayat kepercayaan lokal membuktikan bahwa kopi adalah salah satu semangat yang membuat mereka bisa diterima dengan baik di masyarakat. Keduanya sama-sama mendapat stigma, tapi keduanya sama-sama berjuang menghadirkan makna. Pada kopi, mereka sama-sama mencurahkan rasa peduli, penghargaan pada diri sendiri, hingga percaya diri yang membuat orang lain di sekitar mereka dapat menghargai pengalaman panjang yang menumbuhkan semangat inklusi.

Pada akhirnya, semua orang yang hadir dalam acara Barista Inklusif ini percaya bahwa tidak ada satu pun orang di dunia ini yang tidak dapat mencapai apa yang bisa orang lain capai. Kopi adalah salah satu media yang menjembatani banyak hal, termasuk latar belakang, kepribadian, serta cita rasa yang juga berbeda-beda. Pada kopi, tertanam nilai keragaman rasa yang juga bisa kita cecap sampai ke dasarnya; kemanusiaan.

Jadi, sudahkah kamu mencecap kopi sampai ke rasa yang paling dasar?

Festival Kearifan Lokal, Rayakan Keragaman Satukan Harapan

“Li’i Ina, Li’i Ama. Dia yang nama-Nya tidak boleh disebut. Telinga Besar, Mata Lebar.” Begitulah seorang Rato asal Sumba menjelaskan kepercayaan yang mereka anut di sela-sela kegiatan yang sedang kami lakukan dalam acara Festival Kearifan Lokal yang digelar pada 25-31 Juli 2018 lalu.

Dalam acara ini, hadir berbagai komunitas penghayat kepercayaan lokal bersama beberapa organisasi masyarakat sipil yang bertugas mendampingi mereka dalam upaya mendorong pemerintah untuk dapat melibatkan para penghayat di seluruh Indonesia dalam setiap kegiatan pembangunan nasional.

Selain penghayat Marapu dari Sumba, hadir pula penghayat kepercayaan lain seperti Ugamo Bangso Batak dari Medan, Sunda Wiwitan dari Banten, Putra Rama dari Yogyakarta, Parmalim dari Medan, dan beberapa kepercayaan lain yang ada di Indonesia.

Festival Kearifan Lokal sendiri merupakan kegiatan yang digelar oleh Yayasan Satunama sebagai sarana berjumpa antarkomunitas penghayat dari enam organisasi masyarakat sipil yang ada di Medan hingga Sumba Timur.

Festival ini merepresentasikan keberadaan penghayat kepercayaan sebagai bagian dari kekayaan intelektual, kultural, sekaligus spiritual yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Banyaknya penghayat kepercayaan di Nusantara membuktikan bahwa Indonesia tumbuh dengan banyak nilai dan tradisi yang berbeda, namun tetap satu visi dan misi dalam membangun Indonesia yang damai.

Bertempat di Desa Salamrejo, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, seluruh penghayat kepercayaan yang hadir membuktikan bahwa keragaman adalah keniscayaan yang seyogianya dipupuk untuk terus tumbuh dan berkembang secara harmonis.

Pada 25 sampai 27 Juli 2018, Festival Kearifan Lokal diisi dengan berbagai pertunjukan budaya yang ditampilkan oleh masing-masing penghayat. Selanjutnya, pada 28 Juli 2018, digelar diskusi bertema “Spiritualitas Penghayat”, “Agama Leluhur dalam Pendidikan di Indonesia”, dan “Ruang Sosial bagi Penganut Agama Leluhur” untuk meningkatkan layanan dasar, penerimaan sosial, dan perbaikan kebijakan bagi para penghayat kepercayaan lokal di Indonesia.

Bertolak pada putusan Mahkamah Konstitusi No. 97 Tahun 2016, para penghayat kini sudah bisa mencantumkan kepercayaan yang dianut dalam dokumen kependudukan mereka. Meski begitu, masih banyak penghayat kepercayaan lokal yang belum mendapatkan layanan yang seharusnya diperoleh sehingga mereka belum bisa mengakses layanan kependudukan, pendidikan, maupun kesehatan. Di beberapa tempat, masih terdapat penghayat yang harus masuk agama yang diakui oleh negara untuk mendapatkan fasilitas dan mengikuti berbagai program pembangunan pemerintahan.

“Anak saya, dia harus masuk Kristen dulu untuk bisa sekolah tinggi. Mau tidak mau, ya kami menipu agama. Tapi, keyakinan kami tetap Ugamo Bangso Batak,” jelas Arnold Purba, seorang penghayat Ugamo Bangso Batak yang harus meng-Kristen-kan seluruh keluarganya untuk dapat memperoleh layanan publik yang sama dengan WNI lainnya.

Selain kesulitan dalam mendapatkan layanan akibat kepercayaan yang berbeda dari kebanyakan orang, permasalahan lain yang juga dihadapi oleh para penghayat adalah kemiskinan yang masih dialami oleh sebagian penghayat yang ada di wilayah Sumba. Hal ini disebabkan oleh wilayah yang sulit dijangkau, serta kurangnya akses mereka dalam berbagai program pembangunan daerah. Hal ini jugalah yang mendorong beberapa organisasi masyarakat sipil untuk terus memperbaiki layanan pemerintah bagi para penghayat yang tinggal di wilayah pelosok.

Terlepas dari segala masalah yang dihadapi, para penghayat yang berkumpul dalam festival ini juga bersyukur karena dapat berbagi pemikiran, pendapat, serta cerita tentang kondisi spiritual hingga kultural mereka kepada penghayat dan masyarakat lain yang juga hadir di acara ini.

Bagi publik, kehadiran para penghayat ini tidak hanya membuktikan bahwa Indonesia kaya akan budaya, tapi juga meluruskan pemikiran mereka terhadap stigma yang selama ini kerap dicecap oleh para penghayat.

Di penghujung acara Festival Kearifan Lokal, digelar acara Kirab Budaya bagi seluruh peserta festival untuk sama-sama berjalan sejauh kurang lebih 5 Km sambil mengenakan pakaian adat dari wilayah masing-masing. Puncak acara ini sekaligus merepresentasikan kekayaan intelektual, kultural, dan spiritual Indonesia sebagai keragaman budaya yang mampu menyatukan harapan seluruh masyarakat untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

Kepercayaan lokal adalah salah satu cara kita melihat Tuhan dari sudut pandang yang berbeda, namun dengan tujuan yang sama. Oleh sebab itulah Festival Kearifan Lokal digelar untuk merayakan keragaman dan menyatukan harapan seluruh masyarakat Indonesia.

Status SPT Kurang Bayar? Begini Solusinya!

Awal Maret 2018, semua personil Commcap melaporkan pajak pribadi tahunan. Untuk pelaporan 2017, kami dapat dua bukti potong pajak sehingga status pelaporan perhitungan pajak akhir tahunnya menjadi “kurang bayar”. Artinya, kami harus bayar kekurangan tersebut pada saat pelaporan.

Pernah punya kasus yang sama? Jangan bingung, status kurang bayar bisa terjadi pada siapa saja jika dalam setahun (Januari—Desember) kamu pindah ke beberapa perusahaan dan/atau menerima lebih dari satu bukti potong pajak atas penghasilanmu; atau nominal penghasilanmu di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), yaitu Rp 4.500.000 per bulan. Untuk status kurang bayar seperti ini, kamu perlu menggunakan SPT 1770S.

Jika status pelaporan pajakmu sudah jelas, saatnya kamu tentukan apakah akan memilih sistem pelaporan pajak secara langsung atau online. Sejak beberapa tahun lalu, sistem pelaporan tahunan pajak pribadi telah menyediakan layanan online yang dinamakan e-Filing. Jadi, kamu bisa lapor SPT tanpa harus datang ke kantor pajak.

Awalnya, kami pun cukup bingung karena ini pengalaman pertama lapor pajak secara online dengan status kurang bayar. Setelah googling dan bertanya ke Layanan Informasi dan Pengaduan Kring Pajak (1500200), begini langkah-langkahnya.

1. Mengaktifkan menu e-Billing

Kalau kamu belum pernah lapor pajak secara online, kamu perlu datang ke kantor pajak terlebih dulu untuk meminta EFIN. Setelah menerima EFIN, aktifkan akun wajib pajak online kamu dengan cara login ke www.djponline.pajak.go.id menggunakan EFIN tersebut, lalu aktifkan menu e-Billing dengan mengklik namamu di pojok kanan atas. Setelah itu, pilih menu Profile, lalu scroll sampai ke isian “Tambah/Kurang Hak Akes”, lalu centang “e-Billing”. Pastikan e-Filing dan e-Form juga dicentang, lalu klik “Ubah Akses”. Jika perubahan akses belum berhasil, lakukan kembali proses centang e-Billing sampai berhasil dan kamu akan kembali ke halaman login.

2. Membuat SPT

Setelah mengaktifkan e-Billing, saatnya membuat SPT dengan login kembali ke DJP Online, lalu pilih menu e-Filing. Klik “Buat SPT” di bagian kanan atas kolom daftar SPT. Selanjutnya, muncul beberapa pertanyaan yang mengarahkan kita untuk mengisi jenis formulir SPT yang tepat.

SPT 1770SS adalah jenis formulir untuk pegawai/karyawan dengan penghasilan bruto di bawah Rp 60 juta setahun dan berasal dari satu pemberi kerja, sedangkan SPT 1770S adalah jenis formulir untuk pegawai/karyawan dengan penghasilan bruto sama dengan atau di atas Rp 60 juta setahun dan berasal dari dua atau lebih pemberi kerja. Untuk mengisi formulir SPT, jangan lupa siapkan bukti potong 1721-A1 untuk karyawan swasta atau bukti potong 1721-A2 untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Nah, formulir SPT yang kami isi adalah SPT 1770S dalam bentuk formulir yang terdiri atas beberapa isian yaitu Data Formulir, Lampiran II, Lampiran I, Induk, dan Kirim. Pada saat mengisi Induk Form, perhatikan langkah-langkah berikut.

  • Bagian A. Penghasilan Netto
    • Penghasilan netto dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan. Nominalnya diperoleh dari penjumlahan penghasilan netto seluruh bukti potong yang dimiliki, yang bisa dilihat dari bukti potong pada kolom no 12.
    • Penghasilan Netto Luar Negeri, jika ada.
    • Zakat/sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib.
  • Bagian B. Penghasilan Kena Pajak
    Pilih Penghasilan Tidak Kena Pajak dan Tanggunganmu. Pilihan ini mengacu pada “Status/Jumlah Tanggungan Keluarga untuk PTKP” yang ada di bukti potong pajak. Setelah itu, akan muncul nilai Penghasilan Kena Pajak.
  • Bagian C. PPh Terutang
    PPh terutang akan otomatis dihitung dan kamu bisa mengisinya jika mempunyai Pengembalian/Pengurangan PPh 24 yang telah dikreditkan.
  • Bagian D. Kredit Pajak
    Isi bagian ini jika kamu mempunyai kredit pajak.
  • Bagian E. PPh Kurang/Lebih Bayar
    Di sini, kamu bisa melihat nominal kekurangan pajak yang harus dibayarkan. Selanjutnya muncul pilihan sudah membayar kekurangan pajak atau belum:

    • Kalau sudah, masukkan Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN).
    • Kalau belum, pilih menu “Buat Kode e-Billing”, lalu muncul angka pada kotak di bagian bawah yang merupakan kode e-Billing untuk kamu setor kekurangan pajaknya. Catat dan simpan kode e-Billing ini.
  • Bagian F. Angsuran PPh Pasal 25 Tahun Pajak Berikutnya
    Isi bagian ini jika kamu membayar angsuran PPh Pasal 25.
  • Pernyataan
    Centang kotak “Setuju”, lalu muncul kotak dialog yang menyebutkan kalau SPT kita belum lengkap, akhiri dengan mengklik menu “Tutup”.

Jika sudah selesai, kamu akan dapat summary isian SPT untuk dikirimkan. Tapi, karena SPT kamu belum lengkap alias belum bayar kekurangan pajaknya, SPT tersebut belum bisa dikirimkan. Klik pilihan “Selesai” dan isianmu akan disimpan sebagai draft.

Saat Commcap melakukan pelaporan pajak dengan status “kurang bayar”, kami menghadapi kendala dalam mengisi Bagian E karena kode e-Billing tidak keluar.

Kalau kamu menemukan hal yang sama, kamu bisa pilih menu “Beranda” pada toolbar dan pilih menu “e-Billing”. Dalam kasus tertentu, ada yang menu e-Billing nya belum aktif. Setelah bertanya ke Layanan Informasi dan Pengaduan Kring Pajak, kami diarahkan untuk masuk ke sse3.pajak.go.id.

Di halaman login, ada beberapa pilihan di bawah kotak isian. Pilih “Lupa PIN?”, lalu masukkan NPWP, email yang terdaftar di e-Filing, dan kode keamanan. Link untuk mengubah PIN akan dikirimkan ke email kamu. Setelah mendapatkan link-nya, ikuti perintah untuk mengubah PIN dan kamu bisa login dengan PIN baru.

Setelah itu, kamu akan berada di laman web e-Billing, yaitu Surat Setoran Pajak atau kuitansi pembayaran pajak. Untuk pembayaran pajak, dibutuhkan kode unik yang menyimpan data pembayaran kita. Untuk membuat kode e-Billing, pilih menu “Isi SSE” sampai muncul isian data NPWP dengan data sebagai berikut.

Jenis Pajak : 411125 – PPh pasal 25/29 OP
Kode Setoran : 200 – Tahunan
Masa Pajak : Januari—Desember
Tahun Pajak : 2017
Jumlah Setor : (nominal kurang bayar pajak saat pengisian e-Filing)
Uraian : (kamu bisa isi dengan PPh 29 OP tahun 2017)

Setelah itu, pilih “Simpan” dan lanjutkan dengan membuat “Kode Billing”. Kode Billing akan muncul dan kode inilah yang nantinya akan dimasukkan saat pembayaran. Sebagai bocoran, kemarin saat kami bertanya langkah-langkah ini ke pihak Kring Pajak, mereka sempat membantu membuatkan kode billingnya, lho! 😀

3. Membayar kekurangan pajak

Kalau sudah punya kode billing, kamu bisa bayar kekurangan pajak lewat kantor cabang bank terdekat, kantor pos, atau melalui iBanking rekening kamu (beberapa bank sudah ada menu pembayaran pajak).

Setelah pembayaran berhasil, yang perlu kamu perhatikan adalah NTPN. Kode NTPN ini yang akan kita isi di SPT sebagai bukti pembayaran.

4. Mengirim SPT

Jika Kode NTPN sudah didapat, laporkan SPT kamu dengan login ke DJP Online, lalu pilih menu e-Filing dan pilih “Submit SPT” di menu toolbar. Setelah itu, pilih SPT 1770 tahun 2017, lalu pilih “Ubah SPT”.

Pada bagian awal, isi tahun dan jenis pelaporan, lalu pilih langkah berikutnya sampai ke Induk Form. Di Induk Form, pilih Bagian E. PPh Kurang/Lebih bayar, lalu jawab “sudah” pada bagian pertanyaan pembayaran kekurangan pajak. Setelah itu, masukkan tanggal pembayaran, pilih “Tambah” dan masukkan data NTPN, lalu klik “Simpan”.

Klik bagian Pernyataan dan centang kotak “Setuju”. Dalam beberapa kasus, muncul kotak dialog yang memberitahukan poin-poin apa saja yang belum dilengkapi. Coba dicek kembali ya isian pada poin-poin tersebut!

Saat kemarin Commcap mengirim SPT, pemberitahuan seperti ini muncul karena bagian Daftar Harta tidak terisi. Jadi, isi saja dengan harta yang kamu punya per 31 Desember 2017. Misalnya, cash/tunai kamu di dompet atau tabungan. 🙂

Setelah itu, klik “Langkah Berikutnya”, lalu klik “Permintaan kode verifikasi”, dan kamu akan mendapatkan kode verifikasi lewat email. Setelah isi kode verifikasi, kirim deh SPT-mu! Jika pengiriman SPT sudah selesai, list SPT di bagian beranda e-Filing akan bertambah.

Selamat lapor pajak, kawan-kawan!

Melampaui Batas-batas Perjalanan

Melampaui Batas-batas Perjalanan

Pada 13-15 Juli 2017, saya mewakili Communicaption ikut serta dalam Ekspedisi Pantau Gambut yang dilaksanakan bersama beberapa NGO untuk secara aktif melihat perkembangan restorasi lahan gambut yang dilaksanakan pemerintah di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Dalam perjalanan sejauh lebih dari 1.000 km ini, saya tidak hanya menemukan batas-batas wilayah yang sebelumnya tidak saya lampaui. Perbedaan kebudayaan juga menjadi manifestasi kebesaran semesta yang patut untuk dipelajari.

Sesampainya di Palangka Raya, saya dan Tim Pantau Gambut bergegas menuju Desa Mantangai Hulu, Kapuas, Kalimantan Tengah. Selama 6 jam perjalanan, kami hanya melihat hamparan kebun kelapa sawit, bentangan Sungai Kapuas, dan tentu saja jalan raya yang dibangun di atas lahan gambut dengan tekstur bergelombang yang sangat terasa saat kami jejaki.

Begitu menginjakkan kaki di Desa Mantangai Hulu, panorama masyarakat setempat langsung mengalihkan pandangan kami. Rumah-rumah panggung sederhana berjejer rapi di atas sungai, anak-anak bermain lincah sambil sesekali minta kami memotret mereka ketika sebuah kamera bertengger di tangan kami. Senyum penduduk desa menjadi obat mujarab yang mampu menghilangkan rasa lelah setelah berjalan melampaui batas wilayah kota.

Batas Kenyang

Tempat pertama yang kami sambangi di Desa Mantangai adalah kediaman Bapak Noerhadi Karben, yaitu pendiri Serikat Tani Manggatang Tarung. Sambutan dari pribumi tampak begitu luar biasa karena setiap orang mendapatkan jamuan berupa penganan hasil tani yang diolah secara sederhana sebanyak sepiring. Setiap piring berisi 4 pisang goreng, sejumput selada singkong, beberapa butir “telor cicak” yang terbuat dari singkong, dan sepotong kue gethuk. Menurut masyarakat setempat, jamuan itu harus dihabiskan agar pribumi merasa senang dan dihargai. Alhasil, mau tidak mau, kami harus memenuhi perut kami dengan penganan-penganan tersebut meski sudah terlampau kenyang.

Photo Credit: Leni Novitasari

Beberapa jam setelah beristirahat di kediaman Pak Noerhadi, kami pun bergegas menuju area pertanian milik masyarakat Desa Mantangai Hulu. Namun, sebelum berangkat, kami diperintahkan untuk menggigit masing-masing kelingking kami agar terbebas dari bahaya akibat tidak memakan jamuan utama yang sudah dipersiapkan oleh tuan rumah. Bisa dibayangkan, betapa kenyangnya perut kami jika harus menyantap hidangan utama setelah mengonsumsi makanan serba karbohidrat yang sebelumnya disuguhkan sebagai makanan pembuka!

Pada tahap inilah saya menyadari bahwa melampaui batas kenyang merupakan salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk menghargai apa yang sudah tuan rumah persiapkan bagi tamunya.

Batas Gender

Melanjutkan perjalanan, kami semua bersiap menuju area pertanian seluas 120 hektar milik para petani Desa Mantangai. Menurut Pak Basri, ketua Serikat Manggatang Tarung, setiap kepala keluarga memiliki lahan sebanyak 1 hektar untuk diolah. Untuk sampai ke area pertanian tersebut, kami harus menaiki kelotok selama kurang lebih setengah jam.

Bukan hanya Pak Basri dan Pak Noerhadi yang mengantar kami ke lahan pertanian itu. Beberapa isteri dan anak gadis para petani Desa Mantangai pun dengan senang hati mengantar kami ke lahan milik mereka. Seorang gadis bernama Yunita, keponakan Pak Basri, kebagian satu kelotok dengan saya sehingga kami bisa bertukar cerita selama perjalanan menuju lahan pertanian.

“Kak, kok pakai pelampung?” tiba-tiba Yunita bertanya sambil tersenyum pada saya.

Saya yang tidak terlalu mahir berenang menjawab sekenanya, “Takut tenggelam, nanti dimakan buaya.”

Seketika, obrolan kami pun menjadi semakin berwarna. Dari mulai kenapa orang kota selalu pakai pelampung tiap kali datang ke sini, bagaimana perempuan-perempuan di Desa Mantangai menjalani hari-hari mereka di lahan gambut, sampai pada cerita bahwa setiap hari Sabtu dan Minggu, kaum perempuan di Desa Mantangai sama-sama pergi ke kebun untuk menggarap lahan yang ditinggalkan kaum lelaki. Pada dua hari tersebut, para lelaki pergi ke luar desa untuk menjual hasil tani atau sekadar mencari uang dengan cara lain jika sedang gagal panen. Lantas, kaum perempuan inilah yang menggantikan para lelaki untuk tetap menjaga keberlangsungan olah lahan mereka.

Saat asyik bercerita, pembicaraan terhenti karena kami harus segera turun dari kelotok. Saat melihat area pertanian yang sangat luas ini, saya benar-benar meyakini bahwa inilah kekayaan Indonesia yang hingga kini membuat negara asing tidak berhenti menjajah kita dengan berbagai cara. Sayangnya, mungkin kita belum tahu cara yang tepat untuk menjaga harta bernilai ini.

Ah, lanjut cerita saja!

Setelah kami turun dari kelotok, kami pun segera menuju bangsal tempat para petani beristirahat saat mengolah lahan. Di bangsal ini, kami mulai bercerita kembali satu sama lain. Para lelaki yang sedang beristirahat bercerita antusias tentang solidaritas kaum perempuan yang tidak punya rasa lelah karena setelah mengurus rumah tangga di hari Senin sampai Jumat, mereka masih rela mengorbankan tenaga untuk menggantikan kaum lelaki dalam bertani di hari Sabtu dan Minggu.

“Di sini, yang paling kuat itu perempuan. Mereka bisa mengurus rumah sekaligus bertani. Kami, laki-laki hanya bisa mencari uang saja untuk makan. Bahkan untuk mengurus lahan yang kena konflik dengan perusahaan saja, ibu-ibu yang turun tangan. Ya perusahaan sawit pun takut sama ibu-ibu.” Begitu kisah Pak Basri tentang kekuatan perempuan di Desa Mantangai Hulu sambil sedikit tertawa saat memeragakan “radikalisme” kelompok perempuan yang enggan tanah adatnya diubah jadi tanah perusahaan.

Lagi-lagi, lewat cerita lokal di Mantangai Hulu ini saya mendapatkan pengalaman melampaui batas gender yang sangat sederhana, namun besar kontribusinya.

Batas Kepercayaan

Hari pertama di Desa Mantangai Hulu berjalan begitu menyenangkan karena selain bisa melihat bagaimana para petani lokal berusaha untuk mengolah lahan gambut tanpa membakar, kami juga bisa mengenal budaya dan kepercayaan masyarakat setempat lewat cerita-cerita mereka dan pengalaman langsung saat harus mandi di sebuah gubuk apung di bantaran sungai.

Keesokan harinya, saya dan tim Pantau Gambut bersiap-siap untuk pergi menuju Taman Nasional Sebangau. Sebelum pergi, kami berpamitan terlebih dahulu pada masyarakat setempat. Namun saat hendak berpamitan dengan Pak Noerhadi dan Pak Basri, keduanya sedang mengurusi seorang warga yang sedang mengalami keguguran. Pak Noerhadi dan Pak Basri sama-sama tetua di desa tersebut sehingga mereka “bertanggung jawab” terhadap segala sesuatu yang terjadi pada warga setempat.

Satu hal yang juga sangat menarik di sini adalah rumah ibadah yang berdampingan satu sama lain. Di sini, terdapat 3 kepercayaan yang dianut oleh warganya dan masing-masing rumah ibadah berada di wilayah yang sama. Saat memasuki batas Desa Mantangai Hulu, kita akan melihat sebuah gereja yang berdiri di samping masjid dan rumah ibadah para penghayat kepercayaan, yakni Kaharingan. Seluruh masyarakat bisa dengan nyaman memeluk agama dan kepercayaan mereka.

Lagi, lagi, dan lagi saya telah mendapatkan pengalaman langsung melampaui batas kepercayaan yang beberapa waktu ke belakang sangat langka ditemukan di kota. Ya, bukan masyarakat desa yang terlalu sulit untuk melampaui batas wilayah kota, melainkan masyarakat kota yang sangat sulit melampaui batas-batas kepercayaan sehingga melihat segala sesuatu secara eksklusif.

Batas Pengetahuan

Sesampainya di Taman Nasional Sebangau, kami langsung disambut oleh penjaga Desa Bangkirai untuk kemudian melanjutkan perjalanan berkeliling Taman Nasional dengan menggunakan kelotok. Dalam perjalanan, kami bertukar cerita dengan pengemudi kelotok yang mayoritas bekerja sebagai petani lahan gambut. Menurut mereka, hal yang harusnya dilakukan oleh pemerintah dan lembaga non-pemerintahan untuk menjaga lahan gambut di wilayah ini bukan hanya memanjakan penduduk lokal dengan setumpuk dana, melainkan pemahaman yang mudah dicerna oleh masyarakat lokal.

“Dulu, kami tidak mau menebang pohon sembarangan karena takut leluhur kami. Sekarang, banyak dari kami yang menebang pohon karena melihat orang kota tidak dapat tulah setelah melakukannya,” begitu keluh salah seorang petani Sebangau pada kami.

Lebih lanjut lagi, seorang petani Sebangau bernama Suheriansah menambahkan bahwa masyarakat tidak akan melakukan perusakan lahan jika pemerintah mau sama-sama mengolah lahan dan melibatkan penduduk lokal dalam setiap upaya pelestarian hutan dan lahan.

Bagi saya, pembicaraan ini bukan sekadar mendengar keluh kesah masyarakat lokal soal pembangunan dan pelestarian hutan, melainkan sebuah cara untuk kita bisa sama-sama melampaui batas pengetahuan. Karena sejatinya, setiap orang memiliki pengetahuan tertentu yang tidak dipahami oleh orang lainnya. Masyarakat kota mungkin memiliki cerita dan berita terkait berbagai ilmu dan inovasi yang modern, tapi masyarakat desa juga punya segudang pengetahuan yang mereka kemas dalam kearifan lokal.

Demi kemajuan masyarakat Indonesia yang lebih humanis dan inklusif, siapkah kita sama-sama melampaui batas-batas ini?

 

Mengapa Indonesia Sekarang Sering Bertengkar? Ini Penyebabnya!

“Hidup hari ini kenapa makin crazy, ya?” curhat seorang rekan kantor setelah melihat post SARA di timeline-nya.

“Semenjak ada Facebook nih kayaknya. Dulu perasaan nggak gini-gini amat, di timeline gue isinya pada berantem!” keluh seorang teman dekat yang sebelumnya menjadikan Facebook sebagai medsos favoritnya untuk cari jodoh.

“Gue nggak nyangka, temen yang selama ini gue kenal ternyata pemikirannya kayak gitu!” celoteh sahabat SMA saya di grup Whatsapp almamater. “Wah, tuh kan, mulai kampanye nih dia, sumbernya hoax kayaknya,” lanjutnya sambil mengakhiri pesan dengan emoticon ini: ?

Beberapa kutipan di atas menggambarkan kegundahan yang dirasakan orang-orang di sekeliling saya saat ini. Mungkin kegundahan ini pun dirasakan oleh Anda atau teman Anda; para pembaca yang saya hormati, yang saat ini bimbang apakah akan terus melanjutkan membaca tulisan saya atau pindah ke saluran atau konten yang lain. Saya ikhlas kalau pembaca ingin skip, tapi saya akan peluk erat kalau pembaca terus melanjutkan.

Read more +

Behind the #DammingAction

These last few months, we worked with Greenpeace Indonesia in their campaign to save Indonesia’s peat land and end forest fire. The main idea is to invite many good content creators to create various type of content (co-creation) to be used as campaign materials. Their work can be viewed on Greenpeace Indonesia’s Facebook Page, such as video from Kok Bisa about forest fire, video from Movio Initiative about canal damming, and 360 AR video from Festivo that took place in the middle of the burnt forest.

Last week, for six days, Communicaption with five photographers came to Greenpeace damming location in Sebangau, Central Kalimantan to portray the situation. Some of the photos has been published on their Instagram account: @kadekarini, @skinnymonkey, @nyimaslaula, @mrizag, @danartriatmojo, and also on @everydayinhaze, an Instagram account that specially made for haze disaster in Indonesia. These are some pictures from the damming camp:

Forest fire in Indonesia happened every year, this year is the worst. It’s time for every citizens to take part, visit kepoitubaik.com to help end the forest fire.

Timeout: The Basketball Arcade Challenge

On a hectic Tuesday, our team had marathon meetings with our partners. Yep, when it comes to face-to-face meeting, we usually conduct it continuously in a single day for the sake of time efficiency.

Read more +

15 Songs Every CEO Should Have on Their Playlist

A CEO is the one who leads a company, sets vision and strategy, allocates capital, implements corporate policy, builds culture, connects BODs and employee, and responsible for company’s success or failure.

Read more +

Ideas on Shareable Image for Your Cause Marketing

You tried everything, and yet engagement is still plummeting. You shared killer quotes from well-loved figures; you published sparkling (and expensive) infographics showing jaw-dropping data; you posted cat memes, for crying out loud.

Read more +

7 Pieces of Content You Didn’t Notice were Ads

Yes, it’s about native advertising.
In case you’re not familiar with it, you can click here.
The following are 7 pieces of content in 2014 that you didn’t notice were ads:

Read more +

Page 1 of 212