Tag Archives:

Panduan

Panduan Lapor Pajak untuk Freelancer

Kamu bekerja sebagai freelancer dan lagi bingung gimana lapor pajaknya? Berikut penjelasannya.

Dalam UU Perpajakan, freelancer disebut sebagai wajib pajak yang melakukan pekerjaan bebas, yang berarti seseorang yang memiliki keahlian khusus, digunakan untuk memperoleh penghasilan, dan tidak terikat oleh suatu hubungan kerja.

Beberapa tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas antara lain adalah pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, aktuaris, agen iklan, olahragawan, pengarang, peneliti, penerjemah, agen asuransi, perantara, pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang sinetron, bintang iklan, sutradara, kru film, foto model, peragawan/peragawati, pemain drama, penari, pengawas atau pengelola proyek, penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, moderator, petugas penjaja barang dagangan, dan distributor perusahaan MLM atau direct selling.

Kali ini, Commcap memberikan panduan untuk para freelancer yang memiliki peredaran bruto (penghasilan/omzet) tidak lebih dari 4,8 miliar. Berikut langkah-langkah yang harus kamu lakukan.

 

1. Mendaftar

Penghitungan penghasilan neto bagi freelancer dengan peredaran bruto tersebut dilakukan dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. Kamu wajib melapor ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) terdekat paling lama 3 bulan sejak awal tahun pajak. 

Untuk mendaftar, kamu bisa mengisi surat di link berikut  https://www.pajak.go.id/id/surat-pemberitahuan-penggunaan-norma-penghitungan-penghasilan-neto atau mendaftar online di https://ereg.pajak.go.id.

Untuk mengisi Daftar Kode dan KLU, kamu bisa mencari klasifikasi pekerjaanmu di Lampiran I PER-17/PJ/2015. Contohnya, kalau kamu memberikan jasa kreatif atau produksi bahan periklanan di internet, maka kamu termasuk di Daftar Kode 73100 dengan KLU Periklanan.

 

2. Menghitung pajak

Menghitung pajak freelancer berbeda dengan pegawai kantor. Pertama, buatlah rekap penghasilan bruto yang didapat dari Januari-Desember di tahun lapor. Misalnya, seseorang yang akan lapor pajak pribadi 2019 perlu merekap jumlah penghasilan brutonya selama 2019 tersebut. Jangan lupa untuk meminta bukti potong pajak dari perusahaan yang memberikan pekerjaan. 

Setelah itu, barulah kamu bisa menghitung pajak yang masih harus dibayar dengan cara berikut:

  1. Penghasilan Neto: Penghasilan Bruto dikalikan Norma Penghitungan Penghasilan Neto
  2. Penghasilan Kena Pajak: Penghasilan Neto dikurangi Penghasilan Tidak Kena Pajak
  3. Pajak Terutang: Penghasilan Kena Pajak dikalikan Tarif Pasal 17
  4. Pajak yang masih harus dibayar: Pajak Terutang dikurangi Kredit Pajak (Pajak yang telah dibayarkan pemberi kerja dan tertera pada bukti potong)

Persentase Norma Penghitungan Penghasilan Neto berdasarkan PER-17/PJ/2015, dikelompokkan menurut wilayah sebagai berikut:

  1. 10 ibu kota provinsi, yaitu Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Manado, Makassar, dan Pontianak; 
  2. Ibu kota provinsi lainnya; dan
  3. Daerah lainnya.

Misalnya, jika kamu adalah seseorang yang mempunyai keahlian kreatif periklanan dan terdaftar di kota Bandung, maka persentase Norma Penghitungan Penghasilan Neto kamu adalah 50%. Tinggal kamu masukkan ke rumus di atas, ya. Untuk menentukan penghasilan tidak kena pajak, isilah sesuai dengan status kamu.

PTKP Pria/Wanita Lajang
TK/0 Rp 54.000.000
TK/1 Rp 58.500.000
TK/2 Rp 63.000.000
TK/3 Rp 67.500.000
PTKP Pria Kawin
K/0 Rp 58.500.000
K/1 Rp 63.000.000
K/2 Rp 67.500.000
K/3 Rp 72.000.000
PTKP Suami Istri Digabung
K/I/0 Rp 112.500.000
K/I/1 Rp 117.000.000
K/I/2 Rp 121.500.000
K/I/3 Rp 126.000.000

Tarif Pasal 17

Lapisan Penghasilan Tarif
Rp 0 – Rp 50.000.000 5%
> Rp 50.000.000 – Rp 250.000.000 15%
> 250.000.000 – Rp 500.000.000 25%
> 500.000.000 30%

 

3. Membayar pajak

Sekarang sudah tahu kan berapa jumlah pajak yang masih harus kamu bayar? Nah, pembayaran pajak ke rekening negara dilakukan dengan membuat e-billing di website DJP Online. Berikut langkah-langkah yang harus kamu lakukan:

  • Akses website DJP Online
[Tampilan website DJP Online]
  • Login dan pilih menu “Bayar”
[Tampilan website setelah login]
  • Klik “e-billing
[Tampilan fitur e-billing]
  • Isi jenis pajak, jenis setoran, tahun pajak, dan nominal pajak yang masih harus kamu bayar
[Tampilan surat setoran elektronik yang harus diisi]
  • Klik “Buat Kode Billing” dan kamu akan mendapat Surat Setoran Pajak (SSP) untuk dibawa saat membayar pajak di loket pembayaran pajak/bank

 

4. Lapor pajak

Ada dua cara yang bisa kamu lakukan untuk lapor pajak; secara online dengan mengisi e-form dan mengirim berkas lapor pajak melalui website DJP Online atau secara manual dengan datang langsung ke Kantor Pajak.

Berkas yang perlu kamu siapkan saat lapor pajak adalah bukti potong pajak yang kamu dapat dari pemberi kerja. Kalau kamu memilih lapor online, bukti potong tersebut bisa dipindai & diunggah.

Berikut ini adalah langkah-langkah lapor pajak online:

  • Login dan klik “Lapor”

  • Klik “E-form

  • Klik “Buat SPT” setelah muncul tampilan berikut

  • Jawab pertanyaan berikut dan klik “E-form SPT 1770”

  • Isi tahun pajak dan status SPT, lalu klik “Kirim Permintaan”

SPT sekaligus token untuk pengiriman online akan dikirim melalui email. Untuk membuka form SPT dan mengirimnya secara online, kamu bisa men-download terlebih dahulu IBM Form Viewer yang hanya dapat di-install di OS Windows. 

SPT yang kamu dapat adalah SPT 1770. Isilah SPT dari halaman paling belakang 1770-IV, lalu 1770-III, dan seterusnya. Yang perlu kamu perhatikan adalah Lampiran I. Isi No. 4, pekerjaan bebas. Isi peredaran usaha dengan nilai penghasilan bruto dan norma berdasarkan rumus yang sudah dijelaskan sebelumnya. Setelah itu, kamu akan mendapat nilai Penghasilan Neto yang akan secara otomatis masuk ke 1770 Induk. 

Di form induk, isilah tahun pajak, bulan awal, bulan bulan akhir pelaporan, dan identitas kamu, lalu ceklis kolom “Pencatatan”.

Setelah itu, isi bagian B No.10 sesuai dengan status kamu. Nilainya akan otomatis muncul dan pada Bagian D No.6, pajak yang masih harus kamu bayar akan muncul.

Kalau semua sudah terisi dengan benar, klik tombol “Submit” di atas form untuk pengiriman secara online dan masukkan token yang sebelumnya dikirim melalui email, lalu klik tombol “Submit”. Kamu juga bisa print form laporan pajak ini.

Jika pengiriman berhasil, kamu akan menerima email Bukti Penerimaan Elektronik dari efiling@pajak.go.idJangan lupa, batas akhir lapor SPT Tahunan pribadi adalah 31 Maret 2020. Tapi, lebih awal, lebih nyaman!